Artikel :
Australia memang
memiliki beragam keindahan yang mampu memikat hati para wisatawan, bahkan
mahasiswa asal Indonesia pun juga terpikat dengan kenyamanan, kesejukan, dan
keramahan yang ditawarkan oleh kota-kota di Australia. Salah satunya Rian,
mahasiswa Indonesia yang mengaku senang dam mencintai salah satu kota di
Australia, Brisbane. Ingin tahu cerita selengkapnya? Mari kita simak bersama
cerita dari Rian berikut ini.
Halo, Rian. Salam kenal. Untuk mengetahui lebih jauh, bisakah diceritakan
mengenai profil diri kamu? Baik nama kamu, universitas, jurusan yang diambil,
beasiswa atau biaya pribadi, kemudian apakah yang menarik dari kota yang Rian
tinggali di Australia?
Perkenalkan, nama saya Fitri Isharyanto biasa dipanggil Rian. Saya berasal dari
keluarga kecil di Bantul Yogyakarta. Pada awal tahun 2013, tepatnya tanggal 8
Januari 2013, saya mendapatkan kesempatan yang besar untuk melanjutkan kuliah
di University of Queensland, Australia.
Saya mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) atau
sekarang bernama Australian Award Scholarship untuk jenjang S2 pada Master of
Project Management. Program ini merupakan program beasiswa dari pemerintah
Australia untuk mempererat kerja sama antara pemerintah Australia dan Indonesia
dalam pengembangan sumber daya manusia.
Program beasiswa ini ditujukan bagi para pegawai negeri sipil maupun
non-pegawai negeri/umum untuk melanjutkan studi di Australia. Pada tahun 2012,
program ini memberikan beasiswa sebanyak 450 orang dari seluruh Indonesia.
Cuaca di Brisbane lebih bersahabat daripada cuaca di kota-kota lain di
Australia, terutama di musim dingin. Saya termasuk orang yang alergi terhadap
suhu dingin, jadi Brisbane adalah pilihan terbaik. Selain itu, Brisbane juga
dekat dengan lokasi tempat wisata yg terkenal seperti gold coast dan great
barrier reef.
Banyak orang mengatakan bahwa kuliah di luar negeri itu sangat membantu kita
untuk lebih menghargai perbedaan, juga bisa membantu kita untuk bisa melihat
Indonesia di masa depan, membantu kita untuk melihat potensi negara kita yang
harus dikembangkan, dan sebagainya.
Nah, bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu rasakan ketika bisa kuliah di luar
negeri? Apa yang ingin kamu tularkan untuk anak-anak muda di Indonesia?
Saya sangat setuju dengan pendapat belajar di luar negeri, kita akan lebih
menghargai perbedaan dan pendapat orang lain. Perbedaan latar belakang kultural
akan menjadikan seseorang untuk lebih menghormati orang lain, karena kita dari
kecil sebenarnya sudah diajarkan mengenai toleransi. Saya merasakan bahwa
toleransi orang Australia lebih tinggi daripada orang Indonesia sekarang ini.
Hal ini mungkin sangat terkait dengan pola pendidikan di Australia yang lebih
mengedepankam pembangunan moral anak dibandingkan dengan faktor akademis. Hal
ini saya rasakan justru berkebalikan dengan di Indonesia. Tapi, saya selalu
berharap bahwa kelak Indonesia akan berubah menjadi lebih baik. Selain itu,
kuliah di luar negeri akan meningkatkan rasa cinta terhadap Indonesia, bukan
hanya makanannya tapi budaya dan patriotisme terhadap Indonesia. Saya
sebenarnya bukan penyuka musik dangdut, tapi waktu kuliah di Australia saya
menyukai musik dangdut dan merasa ada suatu kebanggaan lebih menjadi orang
Indonesia.
Apa kelebihan dari University of Queensland tempat kamu kuliah, mungkin bisa
dilihat dari segi fasilitas, kenyamanan, aturan, dan birokrasinya?
The University of Queensland (UQ) merupakan salah satu universitas terbaik di
Australia. Dalam rangking universitas dunia, UQ meraih posisi 80 besar dunia
dan nomor 3 di Australia. UQ mempunyai fasilitas pendidikan kelas dunia dengan
penyediaan perpustakaan, IT, dosen, ruang kelas yang high technology, olahraga
dan fasilitas pendukung lainnya.
UQ terletak di kota Brisbane, ibukota negara bagian Queensland. Dibandingkan
dengan Sydney atau Melbourne, Brisbane termasuk kota kecil. Namun, saya merasa
Brisbane memiliki beberapa kelebihan terutama dalam hal transportasi publik,
fasilitas publik, keramahan penduduk Australia dan komunitas Infonesia, serta
cuaca yang tidak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia.
Transportasi publik di Brisbane merupakan sistem transportasi yang
terintegrasi. Jadi, kita bisa menggunakan beberapa moda transportasi seperti
bus, kereta, dan citycat ferry dengan menggunakan satu kartu "go card
translink". Keuntungan lain dari penggunaan translink adalah diskon 50%
bagi para mahasiswa yang kuliah di Brisbane karena biaya transportasi di
Australia termasuk mahal. Sebagai contoh, kita harus mengeluarkan uang 5 Dollar
untuk sekali jalan, tapi kalau menggunakan go card kita hanya di charge 1.6-an
Dollar. Jadi, lumayan hemat, bukan? Citycat merupakan moda transportasi yang
ikonik di Brisbane. Citycat merupakan transportasi air yang dijalankan oleh
pemerintah kota Brisbane. Jadi, jika berkunjung ke Brisbane, kamu harus mencoba
citycat ini!
Fasilitas publik di Brisbane sangat mendukung keseimbangan aktivitas warganya,
terutama sangat mengutamakan family time. Pemerintah kota Brisbane menyediakan
banyak sekali taman kota yang dilengkapi dengan tempat barbeque gratis dan
sarana bermain untuk anak-anak. Selain itu, mereka juga menyediakan jalur
sepeda dan lari di sepanjang Brisbane River yang biasa digunakan warga Brisbane
untuk berolahraga di sepanjang waktu: pagi, siang, sore bahkan malam hari. Saya
juga melihat di setiap suburb/desa mempuyai fasilitas publik yang seragam baik
yg di deket kota maupun yang jauh dari kota. Saya jadi penyuka sepeda karena
biasa diajak teman-teman Indonesia untuk bersepeda di seputaran Brisbane,
bahkan pernah bersepeda Brisbane - Surfer Paradise.
Jenis pekerjaan sampingan apa yang biasa dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di
Australia? Berapa uang yang bisa didapat dari pekerjaan sampingan tersebut?
Di Australia banyak sekali kesempatan untuk bekerja sambilan, tapi harus
diingat bahwa pekerjaan sampingan tersebut jangan terlalu membebani tugas utama
kita untuk kuliah. Kesempatan bekerja sambilan di Australia dipengaruhi kota
dan networking. Peluang mendapatkan pekerjaan sambilan akan lebih besar di
kota-kota seperti Melbourne, Adelaide atau Canberra. Saya di Brisbane baru
mendapatkan pekerjaan sambilan di semester akhir walaupun di semester 2 sudah
apply sana-sini tapi tidak diterima. Carilah info pekerjaan sambilan dari
networking terutama teman indonesia yang telah lama tinggal di kota tersebut.
Pekerjaan sampingan di OZ biasanya cleaner, kichen hand, shoop keeper, fruit
picker, atau bisa juga jualan masakan Indonesia (kalau pintar masak). Rate atau
penghasilan per jam juga tergantung kota dan hari. Di Brisbane lumayan tinggi
di bandingkan Melbourne atau Sydney. Bekerja waktu weekend biasanya lebih
tinggi dibandingkan dengan weekdays. Berat atu tidak pekerjaan tergantung dari
kita sendiri, tapi biasanya lebih ringan bekerja di OZ dibandingkan di
Indonesia. Saya kemarin mendapat kerja sampingan sebagai kichen hand di resto
kampus. Jadi enak, sehabis kerja bisa langsung kuliah atau ngerjain tugas di
library. Per jamnya 17-an Dollar.
Bagaimana karakter dari masyarakat asli Australia terhadap warga pendatang?
Di daerah sekitar UQ, saya merasakan penduduk Australia sangat ramah ato
"grapyak" kepada pendatang. Jika saya bertemu dengan mereka di jalan,
mereka seringkali menyapa atau selalu tersenyum. Selama satu setengah tahun di
Brisbane saya tidak pernah merasakan adanya diskriminasi ras. Justru
sebaliknya, saya merasa mereka sangat membantu proses adaptasi di Australia.
Saya juga menyarankan agar bergabung dan berinteraksi dengan komunitas
Indonesia. Banyak keuntungan yang didapat yaitu kita masih bisa merasakan
suasana Indonesia dalam hal bahasa, makanan dan kegiatan-kegiatan yang masih berkaitan
dengan Indonesia yang bisa mengurangi kemungkinan homesick. Banyak kegiatan
yang dilaksanakan oleh komunitas Indonesia di Brisbane antara lain: olahraga,
kegiatan religius, dan sosial tergantung pada interest kita. Saya hobi olahraga
seperti bola, badminton, tenis, mancing dan saya bisa melakukan hal-hal
tersebut bersama komunitas Indonesia atau teman-teman kuliah.
Apakah Rian aktif di kepengurusan PPI? Jika iya, apa manfaat yang paling kamu
rasakan dengan aktif di organisasi tersebut?
Saya diminta menjadi pengurus PPIA ranting UQ atau University of Queensland
Indonesian Student Association (Uqisa) periode 2013-2014 sebagai staff divisi
olahraga seni dan budaya. Manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saya dapat
menambah teman dan networking dan menambah pengalaman saya dalam berorganisasi.
Adakah pesan-pesan atau motivasi yang ingin kamu sampaikan untuk para pelajar
Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri?
Sebenarnya untuk kuliah di luar negeri itu mudah jika kita benar-benar ingin,
terutama bagi para PNS. Jadi, yang pertama dilakukan adalah niat yang kuat
untuk mau mencari dan terus mencari peluang. Sekarang banyak beasiswa yang
diberikan, baik dari luar negeri seperti AAS ataupun dari dari dalam negeri.
Sedikit tips dari saya untuk dapat lolos seleksi adalah terkait dengan
penyusunan proposal beasiswa. Akan lebih baik jika kita dapat mengkorelasikan
background pendidikan, pengalaman kerja, tipe organisasi, jurusan kuliah yang
akan kita ambil dan perencanaan masa depan dalam proposal kita. Mintalah
nasehat kepada teman atau atasan kita yang mengerti kemampuan kita, kalau bisa
sekalian mereview proposal yang akan kita ajukan ke pihak AAS. Proposal yang
bagus akan memudahkan kita dalam proses seleksi wawancara. Memang kelihatannya
sulit, tapi saya merasakan bahwa proposal yang saya buat dan di review oleh
teman-teman dan atasan itu memudahkan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan
wawancara. Karena review dari teman-teman dan atasan saya itu mengharuskan saya
untuk men-dig lebih banyak informasi yg diperlukan untuk proses wawancara.
Bahasa adalah masalah kebiasaan. Semakin kita terbiasa dengan suatu bahasa akan
lebih mudah kita memahaminya. Memang grammar penting, tapi yang utama kita
pikirkan adalah penyampaian message supaya orang lain tau apa yang ingin kita
utarakan. Sebelum mengikuti ujian IETLS pada saat seleksi beasiswa, saya
mengikuti program persiapan ujian IELTS selama satu bulan walaupun tidak
instensif. Yang ingin saya capai dari training tersebut adalah pengenalan ujian
IELTS seperti apa bentuk soalnya, waktunya, trik-trik individu untuk
menyelesaikan soal serta mengkondisikan diri sendiri untuk bersiap menghadapi
ujian IELTS karena IELTS berbeda dengan TOEFL. Alhamdulillah, hasil ujian pas
seleksi cukup untuk mendapatkan beasiswa. Setelah mendapatkan beasiswa AAS,
saya diberikan pelatihan bahasa Inggris selama 6 bulan. Fase ini sangat berguna
untuk membiasakan diri dengan penggunaan bahasa Inggris dalam proses
perkuliahan nantinya, termasuk pengenalan tipe penyusunan paper, presentasi dan
tugas tugas kuliah lainnya.
Bagi teman-teman yang belum berhasil untuk mendapatkan kesempatan di luar
negeri, tetaplah berusaha karena kesempatan itu sekarang sangat terbuka lebar.
Luangkanlah lebih banyak waktu untuk belajar bahasa asing dan keluarkanlah
investasi untuk mendukung niat kita untuk belajar di luar negeri karena niat
tanpa usaha is nothing!
Itu tadi sebuah cerita dan pengalaman dari sahabat kita Rian Isharyanto, yang
selalu bersemangat dalam belajar walaupun harus sampai ke negeri seberang. Kamu
sebagai kawula muda yang memiliki mas depan cerah, ada baiknya tetap jaga
semangat kamu dan ikuti jejak dariRian u ntuk kuliah di luar negeri. Jika kamu
ingin info lebih lanjut dan lebih lengkap tentang dunia perkuliahan di luar
negeri, tetep pantau berkuliah.com. Salam sukses dan sampai jumpa!


0 komentar:
Post a Comment